Antara ISLAMOPHOBIA dan 'Perang Melawan Terorisme'
Islam merupakan agama yang paling pesat berkembang di Barat. Masjid-masjid besar dibangun di seantero tanah Inggris, negeri yang menjadi simbol kekuasaan Gereja Anglikan. Pun demikian di negeri-negeri besar Eropa seperti Perancis dan Jerman. Para elit politik (dan kalangan elit gereja tentunya) sangat gundah gulana akan kenyataan ini. Terlebih tekanan kelompok ekstrimis sayap kanan di dalam negeri masing-masing. Mereka terbelenggu oleh ketakutan, yang sebenarnya tidak lebih dari sebuah bentuk kecemasan akut terhadap terkikisnya dominasi mereka dalam tatanan masyarakat mereka sendiri. Fakta ini menimbulkan kecemasan bahkan ketakutan yang membabi buta masyarakat barat (terutama para elite politik dan gereja) terhadap segala sesuatu yang berbau Islam. Beban psikologis inilah yang dieksploitasi media barat dengan menampakkan gambaran stereotip dan prasangka negatif terhadap Islam, dengan laporan dan tulisan yang sering menonjolkan Islam sebagai agama extremist, fundamentalist, terrorist, dan label negatif lainnya. Ketakutan terhadap segala yang berbau Islam telah berkembang menjadi Islamopobia. Dan dari ketakutan ini, media meraup untung besar, para makelar politik panen pencitraan, dan munculah proyek bisnis mengiurkan bernama...”perang melawan terorisme”
Ujian Nasional jadi Evaluasi Nasional
SIM SALABIM... UN JADI EN
Ibarat nonton pagelaran panggung drama, saat
ini penonton disuguhi tontonan yang cukup keren. Di tengah-tengah drama pergolakan
politik yang kian “membosankan”, pemerintah tampil dengan kebijakan pendidikan
yang cukup krusial. Pasalnya, di tengah masa “bulan madu” sebagai Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan memetamorfosa sistem
penentu kelulusan yang semula beristilah Ujian Nasional (UN) menjadi EN
(Evaluasi Nasional).
Misteri e-KTP
MISTERI DIBALIK e-KTP
Jika Anda adalah salah satu penduduk Indonesia yang
belum mengurus dan memiliki Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) hingga
2014, maka Anda tak perlu ‘kebakaran jenggot’, bahkan anda mungkin tergolong
orang yang beruntung. Pasalnya, data setiap penduduk Indonesia yang telah
tercatat dalam chip e-KTP, ternyata disimpan dalam server yang tak jelas
keberadaanya. Buruknya, data tersebut bisa saja menyebar dan disalah-gunakan
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memastikan menyetop
pembuatan Kartu Tanda Penduduk elektronik atau e-KTP hingga batas waktu yang
tidak bisa ditentukan. Bapak Tjahjo Kumolo khawatir karena server untuk chip di e-KTP berada
di negara lain.
Langganan:
Postingan (Atom)


